Tentang Kami

Problem mendasar yang ditemukan dalam proses demokratisiasi di  Indonesia adalah “kebutaan” masyarakat—terutama kalangan lapis bawah—terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara; hal mana berakibat pada terciptanya jarak yang begitu jauh di antara masyarakat sebagai konstituen dengan para pembuat kebijakan, baik di level eksekutif maupun legislatif. Kami meyakini bahwa proses demokratisasi hanya akan berjalan dengan baik jika seluruh elemen masyarakat berperan secara aktif dalam usaha penyelenggaraan Negara.

Kondisi di atas menjadi ide dasar berdirinya Rumah Konstituen dengan kesadaran pentingnya melahirkan kelompok relawan (volunteers) yang dipersiapkan guna mendorong partisipasi publik mengawal penyelenggaraan Negara. Simpul-simpul relawan inilah yang diharapkan mampu menciptakan penguatan civil society dalam berbagai ruang publik dengan cara merespon isu-isu kebangsaan untuk tujuan pembangunan.

Nama “Rumah Konstituen” sendiri dipilih berdasarkan pertimbangan praksis dan filosofis. Secara praksis, Rumah Konstituen diharapkan dapat menjadi wadah penyatuan ide dan gagasan dari setiap simpul-simpul Civil Society untuk dikonsepsikan menjadi landasan pergerakan dan perjuangan mendorong pembangunan bangsa dan Negara mewujudkan cita-cita kesejahteraan sosial. Sementara dari sudut filosofis, “Konstituen” dimaknai sebagai “pemilik saham,” unsur yang secara aktif memainkan peran untuk menentukan keterwakilan dirinya dan memegang “otoritas penuh” atas keputusan-keputusan yang diambil dalam wujud keterwakilan tersebut.

Dengan demikian, Rumah Konstituen bisa dipahami sebagai wadah yang mengandung makna generik ikatan; perkumpulan; tempat perlindungan; maupun ruang pemecahan masalah; di mana setiap unsur-unsur yang membentuk ikatan tersebut (masyarakat atau warganegara) mampu mengidentifikasi masalahnya; menyatukan ide dan gagasan; membangun komitmen perjuangan; dan berpartisipasi secara aktif merumuskan solusi pemecahannya.

Rumah Konstituen berdiri di atas tiga prinsip dasar: progressive (semangat pembaruan); independency (semangat kemerdekaan); dan egalitarian (semangat persamaan). Pencapaian visi dan misi yang menjadi platform utama berdirinya Rumah Konstituen harus berpijak pada tiga prinsip tersebut. Hal ini juga berarti bahwa setiap unsur yang bergabung dan melibatkan diri dalam Rumah Konstituen, baik pendiri; pengurus; pelaksana; maupun para relawan harus menjiwai tiga prinsip dasar di atas, sehingga setiap aspek yang diperjuangkan melalui Rumah Konstituen diyakini benar-benar konsisten berada pada koridor dan aturan main yang telah dirumuskan melalui Rumah Konstituen.

Berpijak dari tiga prinsip dasar di atas, maka visi yang dibangun Rumah Konstituen adalah: “Terciptanya tatanan masyarakat baru yang berperan aktif  mewujudkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan sosial.” Visi tersebut diwujudkan dengan menjalankan misi:

  1. Mendorong peranserta masyarakat dalam mengawal penyelenggaraan Negara mewujudkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan sosial;
  2. Menguatkan simpul-simpul Civil Society untuk tujuan pembangunan bangsa dan Negara yang melibatkan peranserta masyarakat;
  3. Mendorong dan membidani lahirnya relawan-relawan berintegritas untuk memperjuangkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan sosial dalam berbagai ruang publik.