Pemberdayaan Masyarakat Lapis Bawah

Masyarakat lapis bawah dipahami sebagai masyarakat akar rumput (grassroot), istilah yang diyakini muncul dari pernyataan seorang senator Amerika asal Indiana bernama Albert Jeremiah Beveridge pada tahun 1912. Dalam konsepsi sosiologis, masyarakat lapis bawah memang bisa dimaknai sebagai stratifikasi sosial yang dibedakan berdasarkan klasifikasi tertentu yang memperlihatkan perbedaan kelas, baik dalam aspek ekonomi, politik, status sosial, dsb. Namun demikian, penggunaan istilah masyarakat lapis bawah di sini tidak ditujukan untuk menegaskan pertentangan antar kelas, melainkan sebuah konsep yang dipakai untuk melakukan pemberdayaan pada sasaran yang tepat.

Istilah grassroot sendiri sebenarnya lebih tepat ditempatkan sebagai gerakan yang bersifat buttom-up (dari bawah ke atas) dalam rangka mengambil keputusan-keputusan yang pada gilirannya akan mempengaruhi perubahan dari tingkat lokal, regional, untuk selanjutnya ke tingkat nasional; artinya gerakan ini bisa dianggapp sebagai anti-tesa perubahan yang bersifat top-down (dari atas ke bawah).

Karenanya, grassroot yang oleh Rumah Konstituen disebut dengan menggunakan terminologi “masyarakat lapis bawah” harus dipahami dalam kerangka memperjuangkan perubahan yang bersifat buttom-up dalam artian mendorong partisipasi masyarakat untuk melakukan intervensi kepada para pengambil kebijakan yang cenderung bekerja dengan mekanisme top-down.