“Tagar Ganti Bupati” Tercetus dalam FGD Rumah Konstituen di Serdang Bedagai

Serdang Bedagai, Rumah Konstituen | Setelah pelaksanaan FGD di Kota Medan (6/11), Rumah Konstituen menggelar FGD serupa di Kabupaten Serdang Bedagai pada hari Sabtu kemarin (16/11). FGD tersebut merupakan bagian dari riset percakapan media sosial terkait isu-isu Pilkada di enam Kabupaten/Kota Sumatera Utara peserta Pilkada serentak tahun 2020.

Serdang Bedagai sendiri merupakan satu di antara daerah yang turut dimonitoring bersama lima daerah lainnya, yaitu: Medan; Labuhanbatu; Labuhanbatu Utara; Simalungun; dan Sibolga.

Dalam kegiatan kelompok diskusi terarah yang digelar di EM EN Cafe Jalan Kabupaten Kecamatan Perbaungan itu, tercetus ungkapan “Tagar Ganti Bupati” dari salah seorang narasumber.

“Kalau dulu ada Hastag ‘Ganti Presiden,’ mungkin di Sergai bisa dibuat hastag ‘Ganti Bupati,’ untuk membuat isu Pilkada ini ramai dibincangkan” ungkap Aulia Andri, Pegiat Media Sosial yang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan FGD itu.

Ungkapan ini disampaikan Aulia merespon paparan Direktur Rumah Konstituen, Eko Marhaendy. Dalam paparannya, Eko Marhaendy menyinggung “Tagar Ganti Presiden” sebagai yang ramai dibincangkan di media sosial pada masa Pilpres beberapa waktu lalu.

Eko menyebut media sosial sebagai ruang publik dalam bentuk yang lain. Walaupun outpunya tidak selalu melahirkan hasil yang sama dengan perbincangan di media sosial, tapi perbincangan itu menunjukkan adanya perhatian publik pada isu-isu terkait.

“Tentu ada variabel lain yang akan mengimbangi isu-isu yang dibicangkan di media sosial. Seperti hastag “Ganti Presiden” yang berbanding terbalik dengan outputnya. Tapi variabel-variabel penyeimbang itulah yang sebetulnya diharapkan lahir dari perbincangan sebuah isu di media sosial,” terang Eko.

Dalam pantauan Rumah Konstituen, sebagaimana dipaparkan Eko, percakapan tentang Pilkada Serdang Bedagai di media sosial sepanjang masa monitoring (dua setengah bulan) masih sangat minim. Minimnya percakapan itu menunjukkan kurangnya atensi publik terhadap isu Pilkada Serdang Bedagai.

“Dalam ukuran tertentu, kondisi ini bisa ‘membahayakan’ masa depan demokarasi di Serdang Bedagai” pungkasnya.

Pengamat politik dari UIN Sumatera Utara, Faisal Riza, meyebutkan minimnya atensi publik terhadap isu Pilkada Serdang Bedagai merupakan konsekuensi dari tradisi politik kepartaian yang cenderung sentralisasi. Meski demikan, Riza tetap mengapresiasi Serdang Bedagai sebagai kabupaten yang cukup berhasil jika dibanding dengan kabupaten pemekaran lainnya yang seusia.

Sementara itu, Ahmad Almaseh, Ketua PSI Kabupaten Serdang Bedagai, yang juga terlibat sebagai narasumber, menyikapi monitoring yang dilakukan Rumah Konstituen sebagai program yang sangat penting di Serdang Bedagai. Harapannya, program-program semacam ini dapat melahirkan gerakan moral bagi perbaikan Serdang Bedagai pada masa mendatang.  

FGD yang mengambil tema “Pilkada Serdang Bedagai dalam Perbincangan Dunia Maya” itu, dipimpin langsung oleh Program Officer Rumah Konstituen untuk Kabupaten Serdang Bedagai, Herri Hilmawan Lubis. Selaku moderaotr, pemuda yang akrab disapa “Erick” ini juga memberikan kesempatan kepada figur-figur kandidat yang turut hadir dalam kegiatan, untuk memberikan respon dan sarannya.

Adapun beberpaa figur kandidat yang namanya masuk dalam radar percakapan di media sosial yang turut mengikuti kegiatan FGD, adalah: Dianto; Rizki Ramadhan Syahlan Siregar; dan Syahrianto. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.00-18.00 WIB itu dihadiri sekira seratus orang partisipan dari berbagai elemen di Kabupaten Serdang Bedagai (WMS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *